Film Horor wajib di TONTON

film-film horor ini adalah film yang wajib bagi sobat-sobat semua tonton…, bagi pencinta horor, pokok.a klo belum nyoba nih film…, beuhh,, bukan Horor mania berarti…, nih ada beberapa film yang saya ulas ceritanya…,semoga pada tertarik untuk menontonnya. Cek aja deh langsung… !

Trick ‘r Treat (US, 2009)
Inilah the most underrated horror movie di dekade lalu. Padahal filmnya sendiri sama sekali tidak buruk. Hanya saja karena langsung edar dalam bentuk DVD, banyak yang menduga Trick ‘r Treat tidak layak untuk ditonton. Dengan menggunakan 4 plot utama, Trick ‘r Treat sanggup menyebarkan kengerian khas film-film horror dari tahun 1990-an. Twist ending yang disisipkan oleh Michael Dougherty membuat film ini terasa istimewa.
Dawn of the Dead (US, 2004)
Versi aslinya ditangani oleh George A. Romero dan merupakan salah satu film zombie terbaik yang pernah dibuat. Remake-nya dikomandoi oleh Zack Snyder dengan hasil yang sangat memuaskan. Tidak sebaik versi aslinya tentu saja, namun Zack Snyder menciptakan style-nya sendiri untuk Dawn of the Dead. Tidak berkesan kuno dan sangat menyenangkan untuk ditonton.
Lake Mungo (Australia, 2008)
Hanya segelintir orang yang tahu mengenai film bergenre mockumentary horror asal Australia ini. Lake Mungo adalah salah satu yang terbaik di genre-nya. Sesi wawancara dan potongan-potongan video yang menyeramkan ditampilkan dengan meyakinkan. Tapi yang membuat saya melonjak kaget adalah ending-nya yang sama sekali tidak saya duga. Tidak ada persiapan sama sekali untuk adegan yang sangat mengerikan itu.
Saw (US, 2004)
Lupakan saja sekuel-sekuelnya yang semakin lama semakin ngawur, Saw jilid pertama adalah film yang cerdas. Hanya dengan memanfaatkan ruang gerak yang sempit dan dua aktor yang berlakon, Saw tidak terjebak menjadi sebuah film yang monoton. Dilapisi dengan setumpuk misteri yang perlahan-lahan dibongkar hingga endingnya yang mencengangkan, ketegangan Saw terjaga konstan dan tidak mampu ditandingi oleh sekuel maupun penirunya.
4bia (Thailand, 2008)
ntologi horror asal Negeri Gajah yang terdiri dari 4 segmen ini sejatinya hanya memiliki 2 segmen yang mencekam, segmen pertama dan terakhir. Terror yang terjadi di sebuah kamar dan pesawat terbang ini disampaikan perlahan dengan atmosfir yang menyeramkan. Saya sangat menyarankan Anda untuk menonton film ini sendirian di dalam kamar saat tengah malam dengan pintu terkunci. Dijamin bulu kuduk Anda langsung berdiri.
Identity (US, 2003)
Pernah membaca novel Agatha Christie yang dalam bahasa Indonesia diterjemahkan menjadi Sepuluh Anak Negro? Nah, Identity ini bisa dibilang adalah adaptasi bebas dari novel tersebut. 10 orang dari latar belakang yang berbeda terjebak di sebuah motel karena badai dan seorang pembunuh berantai bebas berkeliaran. Dibuka dengan opening sequence yang menarik, Identity berkembang menjadi sebuah film misteri yang mencekat dan penuh dengan ketegangan.
The Eye (Hong Kong, 2002)
Apakah Anda memilih untuk tetap buta seandainya setelah memperoleh donor kornea justru mampu melihat hal-hal yang diinginkan? Pang Brothers mengajak kita untuk memasuki dunia baru dari seorang gadis yang baru saja bisa melihat. Layaknya film horror dari Asia kebanyakan, The Eye pun memulai segalanya dengan lamban hingga akhirnya adegan-adegan yang mengerikan pun digeber sesaat setelah sang gadis mendapatkan penglihatannya.
The Exorcism of Emily Rose (US, 2005)
Sebenarnya film yang berangkat dari kisah nyata ini lebih banyak berputar-putar di ruang pengadilan ketimbang menyuguhkan adegan kerasukan setan. Scott Derrickson menyuguhkan segalanya dengan nyata, seolah-olah kita sedang menyaksikan rekaman video di sebuah acara talk show. Drama di pengadilan menegangkan dan horror di rumah Emily Rose pun menyeramkan. Sebuah kombinasi yang manis.
Pocong 2 (Indonesia, 2006)
Film pertamanya dilarang untuk beredar dan sebagai gantinya Rudi Soedjarwo meluncurkan sekuel yang lebih menakutkan. Pocong 2 dijamin membuat para pocong tersenyum bangga dan mengirimkan kado untuk Rudi Soedjarwo. Disini, pocong diperlakukan dengan selayaknya. Kemunculan pocong selalu berhasil menimbulkan kengerian yang luar biasa. Skrip dan akting para pemainnya pun mumpuni. Kalau Anda jenuh dengan film-film pocong saat ini yang hancur lebur, maka tonton Pocong 2. Berani ke kamar sendirian malam-malam setelah menonton film ini, saya acungi jempol.
The Orphanage (Spanyol, 2007)
The Orphanage bukanlah tipe film horror yang menakut-nakuti penontonnya melalui penampakan yang berulang kali atau sound memekakkan telinga. J.A. Bayona menawarkan sensasi suspense yang mendebarkan. Atmosfir rumah yang ‘creepy’ plus music gubahan Fernando Velázquez turut berpengaruh dalam membangun ketegangan. Bisa dibilang, The Orphanage adalah film horror modern dengan style kuno yang masih memperhatikan dramalurgi dan akting memikat para pemain sebagai salah satu komponen tak terpisahkan untuk menciptakan film horror yang baik.
Drag Me to Hell (US, 2009)
Keasyikan menonton Drag Me to Hell memang tiada tara. Film ini mampu membuat saya menjerit dan tertawa di saat yang bersamaan. Sam Raimi adalah salah satu maestro penghasil film horror komedi. Jika ingin mengetahui bagaimana seharusnya sebuah film horror dipadukan dengan komedi, maka tontonlah Drag Me to Hell, sebuah film yang sangat menghibur, lucu dan menakutkan. Alih-alih stres karena ketakutan, Anda justru akan terhibur saat menyaksikan Drag Me to Hell. Fun as hell!
Inside (Prancis, 2007)
Penggemar film horror yang berdarah-darah tentu tidak akan melewatkan Inside. Sebagai salah satu film terbaik dari generasi ‘New Wave of Extreme French Horror Films’. Sangat brutal, tidak berperikemanusiaan, penuh dengan tumpahan darah dan potongan tubuh berceceran dimana-mana. Bahkan sebuah adegan di ending membuat saya tidak tahan menontonnya saking sadisnya. Pun begitu, Inside tidak hanya menjual kesadisan semata karena ditilik dari penggarapan, akting dan naskah, film ini pun tergolong jempolan.
The Descent (Inggris, 2005)
Opening sequence dari The Descent berada dalam posisi atas sebagai adegan paling traumatik versi Cinetariz. Belum apa-apa, saya sudah dibuat tidak nyaman. Memasuki inti cerita ketika para gadis ini menjelajahi gua, The Descent semakin tidak menyenangkan untuk ditonton, dalam arti positif tentu saja. Makhluk misterius yang meneror para gadis ini ditampilkan sangat menyeramkan. Adegan ‘cat and mouse’ pun bergulir yang membuat saya berkali-kali menahan nafas dan jantung pun ikut berdegup kencang.
The Ring (US, 2002)
The Ring versi Gore Verbinski hanyalah segelintir dari film horror dari Asia yang di-remake dengan sukses oleh Hollywood. Rasa ngeri yang teramat sangat ketika menyaksikan Ringu masih bisa ditemukan disini. Verbinski memulai segalanya dengan adegan yang sukses meneror penonton. Adegan-adegan selanjutnya pun tak kalah mengerikan. Imajinasi liar Koji Suzuki berhasil dijewantahkan Verbinski dengan apik, bahkan hanya setingkat lebih rendah dari Hideo Nakata.
Keramat (Indonesia, 2009)
Oke, saya akui saya pernah meremehkan film ini dan sekarang saya kualat. Keramat ternyata lebih menyeramkan dari yang saya duga. Dibuat dengan gaya ‘found footage’, Keramat sanggup membuat saya sulit tidur beberapa hari dan parno terhadap suara gamelan. Dengan minimnya adegan penampakan-penampakan yang murahan, Keramat malah terasa lebih natural. Fakta bahwa setting dekat dengan rumah dan saya pernah mengalami secara langsung salah satu kejadian dalam film membuat kengeriannya berlipat ganda.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s