Perkembangan film Horor di INDONESIA

Awal Mula Film Horor Indonesia

 

Sejak awal kelahirannya, film identik dengan hiburan rendah orang kota. Fenomena perkembangan film yang begitu cepat dan tak terprediksi membuat film menjadi salah satu fenomena budaya progresif. Tidak hanya di negara besar, tapi juga di negara berkembang seperti Indonesia.

Lewat penelusuran sejarah film horor di Indonesia masuk pada awal abad 20. Butuh empat puluh satu tahun bagi bangsa Indonesia untuk dapat menyaksikan hantu bertebaran di layar lebar. Dimulai dengan kemunculan film Tengkorak Hidoep (1941) dan Lisa (1971), dua film ini dianggap sebagai pionir film horor di Indonesia. Walau masih diperdebatkan, kedua film ini mengangkat jenis horor yang berbeda, film Tengkorak Hidoep bersubgenre satanic horror (demonic horror), sedang Lisa lebih pada psychological horror. Berbeda dengan Tengkorak Hidoep, Lisa tidak terlalu laku dipasaran. Walau tidak laku dipasaran setelah kemunculan Lisa, film-film horor di Indonesia tumbuh subur, misalnya; Beranak dalam Kubur (1971), Pemburu Mayat (1972), Ratu Ular (1972), Cincin Berdarah (1973) Mayat Cemburu (1973), Si Comel (1973), Si Manis Jembatan Ancol (1973), Drakula Mantu (1974), Kemasukan Setan (Dukun) (1974), Kuntilanak (1974), Arwah Penasaran (1975), Penghuni Bangunan Tua (1975), Setan Kuburan (1975), Ingin Cepat Kaya  (1975), Arwah Komersil dalam Kampus (1977), Dewi Malam (1978), Godaan Siluman Perempuan (1978), Pembalasan Guna-Guna Istri Muda (1978), Tuyul (1978), Kutukan Nyai Roro Kidul (1979), Penangkal Ilmu Teluh (1979), Tuyul Eee Ketemu Lagi (1979), Tuyul Perempuan (1979). Film horor yang hadir di tahun 70-an, hampir seluruhnnya menampilkan kisah-kisah demonic horror yang bercampur dengan okultisme, sadisme, seks, dan komedi. hal tersebut dipengaruhi oleh trend film horor global masa itu yang berkiblat pada Rosemary’s Baby (1968) Roman Polanski, film berbudget rendah, namun sukses secara pemasaran ini banyak dipuji kritikus.

Sejauh ini tahun 1980-an merupakan tahun keemasan bagi film horor Indonesia, kurang lebih 69 judul film meramaikan layar lebar Nusantara. Bahkan beberapa film berhasil mendapat penghargaan disejumlah festival dalam negeri yang ada. Di antaranya Ratu Pantai Selatan (1980) mendapatkan piala LPKJ pada FFI 1981 untuk Spesiak Efek; Rina Hassim dalam Genderuwo (1981) masuk unggulan FFI 1981 untuk Pemeran Pembantu Wanita; Ratu Ilmu Hitam (1981) bahkan masuk unggulan dalam lebih banyak kategori FFI dalam FFI 1981, Suzana untuk Pemeran Utama Wanita, WD Mochtar untuk Pemeran Pembantu Pria, juga editing, fotografi, dan artistik. Selain itu jumlah penonton pun mengalami peningkatan. Sundel Bolong (1981), Nyi Blorong (1982), Setan Kredit  (1982), Telaga Angker (1984), Petualangan Cinta Nyi Blorong (1986), Santet (1988), merupakan film-film yang laris pada masanya.

Walau demikian kehadiran bioskop di awal 80-an, membuat penonton memiliki banyak pilihan dan semakin dewasa dalam menilai film yang ditonton. Bioskop pun mulai terbagi berdasarkan tingkat kehidupan sosial. Cinemascope atau yang sekarang dikenal dengan 21 Cineplex, hanya memutar film-film produksi Hollywood. Sedangkan film lokal, diputar di bioskop kecil atau pinggiran. Monopoli jaringan bioskop 21 Cineplex ini, membuat bioskop-bioskop pinggiran gulung tikar. Hingga pada tahun 90-an, produksi film dalam negeri pun menurun drastis. Beberapa sekuel dari film sebelumnya, seperti Misteri dari Gunung Merapi II (Titisan Roh Nyai Kembang) (1990),  Misteri dari Gunung Merapi III (Perempuan Berambut Api) (1990), Si Manis Jembatan Ancol (1994), membuka awal tahun 90-an. Selebihnya film-film horor yang ada menjadi  lebih berani dalam pamer tubuh, dan mengikuti fenomena film berbau seks yang hadir pada masa itu. Hal itu terlihat dari Gairah Malam (1993), Godaan Perempuan Halus (1933), Misteri di Malam Pengantin (1993), Susuk Nyi Roro Kidul (1993) Godaan Membara (1994), Cinta Terlarang (1994),  Pawang (1995), Bisikan Nafsu (1996), Mistik Erotik (1996), Rose Merah, (1996), Birahi Perempuan Halus (1997).

Dunia perfilman Indonesia yang lebih menonjolkan aspek seksualitas membuat jaringan bioskop 21 Cineplex semakin menutup pintunya rapat-rapat bagi film Indonesia yang “tidak berkelas atas”. Film-film Hollywood pun didatangkan hampir 200 judul tiap tahunnya, dan merajai layar bioskop-bioskop nusantara. Kondisi ini membuat dunia perfilman Indonesia makin parah dan kecil di negeri sendiri. Di tambah lagi krisis ekonomi yang terjadi di tahun 1998, berimbas langsung pada biaya produksi film yang meningkat pesat. Tak pelak lagi perfilman Indonesia pun seakan mati suri.

Baru pada tahun 2000, Mira Lesmana dan Riri Riza, menggebrak perfilman Indonesia dengan film Petualangan Sherina. Film musikal keluarga yang menampilkan wajah imut Sherina Munaf dan Derbi Romero ini laris manis. Tak lama berselang, Rudi Soejarwo juga ikut ambil bagian dengan film Ada Apa Dengan Cinta? (AADC?). Film yang menceritakan kisah cinta antara Rangga dan Cinta ini, sukses membuat para remaja dan pencinta film, berbondong-bondong datang ke bioskop untuk larut dalam romantika asmara ala Cinta (Dian Sastro) dan Rangga ( Nicholas Saputra). Tidak hanya filmnya yang laris, soundrack AADC? Pun turut merajai tangga lagu di radio-radio, bahkan buku Sjumanjaya yang berjudul “AKU” dicatak ulang seiring dengan kesuksesan film AADC?.

Pascakesuksesan AADC? Perfilman Indonesia, seakan mendapat angin segar. Film Indonesia kembali menujukan gairahnya dan mencoba bangkit dari krisis yang ada. Tidak hanya itu ramainya penonton antre di bioskop jaringan 21 Cineplex untuk menyaksikan film buatan anak negeri, membuat produser berlomba-lomba merilis film terbaru. Produksi film pun meningkat, Eiffel I’m In Love, Virgin, Heart, Arisan, Berbagi Suami, Jomblo, GIE, Mendadak Dangdut, Get Merried, berhasil menarik perhatian penontoh. Bahkan film “Heart”, arahan Hanny R Saputra yang dibintangi Nirina Zubir, memegang rekor jumlah penonton terbanyak di tahun 2006 yang mencapai angka 1,3 juta. Tidak hanya film bergenre drama percintaan remaja yang sukses di pasaran. Film bergenre horor pun menjadi salah satu primadona. Kesuksesan fim Jelangkung (2001), terbukti mampu menyaingin kesuksesan film-film drama yang ada dan membuat hantu-hantu lain mulai bertebaran dan di layar lebar.

Beburu Hantu di Bioskop

Jelangkung… jelangkung… di sini ada pesta, datang tak dijemput, pulang tak diantar..

Tiba-tiba kalimat tersebut menjadi popular, setelah Rizal Mantovani dan Jose Purnomo, meluncurkan film perdana mereka bertajuk Jelangkung di tahun 2001. Film ini menandai periode kedua perfilman horor di Indonesia. Jelangkung terbilang sukses. Tidak hanya bagi perfilman Indonesia tetapi bagi kebangkitan film horor di Indonesia. Film Jelangkung dianggap membawa nuansa yang berbeda dengan kekuatan fotografi, editing dan suara. Selama berminggu-minggu film Jelangkung bertahan di layar lebar bioskop jaringan 21 dan menghasilkan keuntungan yang fantastis. Tercatat penonton film ini mencapai angka 1,2 juta orang.

Flm Jelangkung mencoba menghadirkan kehidupan remaja urban yang belum pernah disentuh film horor Indonesia. Film ini sebenarnya dipengaruhi oleh film J-Horror (film horror Jepang), Ringu (1997) karya Hideo Nakata yang menjadi trend internasional saat itu. Pengaruh Ringu membuat Rizal secara tidak sadar memindahkan film horrror Indonesia dari narrative horror ke visual horror. Kesuksesan film Jelangkung, melahirkan  sekuel berjudul “Tusuk Jelangkung”, hingga yang terbaru Jelangkung 3. Film Jelangkung 3 malah terinspirasi dengan mitos sebaris bangku kosong yang disediakan khusus (tumbal) pada Film Jelangkung (2001). Kesuksesan dua film pendahulunya membuat film ketiga ini, lagi-lagi mencuri perhatian banyak penonton walau tak sebanyak dua pendahulunya.

Sukses film Jelangkung membuktikan film berjenis horor tidak kalah pamor dan  banyak diminati oleh penonton. Hal ini terbukti dari jumlah penonton yang terbilang fantastis, melebihi jumlah penonton film berjenis drama ataupun komedi. Tidak hanya Jelangkung, film-film horor lainnya pun ikut berjaya dalam merebut hati penonton di Indonesia. Semisal penonton film Pocong 2 (2006) garapan Rudi Soejarwo meraup 1,2 juta penonton. Film Pocong 2 menarik perhatian penonton karena rasa penasaran yang besar, setelah Pocong 1 dilarang beredar oleh Badan Sensor Film (BSF) karena banyak mengandung adegan kekerasan. Rudi Soedjarwo akhirnya memutuskan untuk membuat film Pocong 2 dari pada harus menggunting banyak adegan dalam film horor pertamanya. Pencapaian fantastis lain diraih  Kuntilanak (2006) yang mencapai angka 1,5 juta orang dan diputar di negara tetangga seperti Malaysia dan Filipina. Hal inilah yang membuat produser tidak pernah bosan untuk membuat film berjenis horror.

Sebagai pendrobrak, film Jelangkung menjadi salah satu film yang menebar teror kengerian penontonnya. Seramnya hantu Suster Ngesot, bahkan menginspirasikan para pembuat film untuk membuat film bertajuk Suster Ngesot dan Suster N (Dendam Suster Ngesot), hantu kentang di rumah kawasan pondok indah, menginspirasikan lahirnya film Rumah Pondok Indah bahkan daerah Angker Batu yang diceritakan pada film Jelangkung, dibuat film bertajuk Angker Batu.

Sebenarnya fenomena hantu masuk bioskop bukan hal baru di dunia perfilman Indonesia. Di tahun 1980, film-film bertema mistik pernah berjaya di layar lebar. Sebut saja Sundel Bolong, Nyai Loro Kidul, Nyai Blorong, dan film-film lain yang banyak memajang wajah misterius Suzana, pernah mewarnai pertumbuhan dunia perfilman. Dan kali ini, film-film serupa kembali booming dengan tema yang tak terlalu beda. Judulnya pun dibuat simpel (baca: kurang kreatif) seperti, Jelangkung, Pocong, Kuntilanak, Sundel Bolong, Suster Ngesot, Genderuwo, Hantu, merupakan bukti bahwa mahluk halus menjadi komodoti yang menguntungkan. “Sekarang semua setan di buat film Suster Ngesot, Dendam Sundel Bolong, Kuntilanak, jangan-jangan nanti bakal ada tuyul, kolor ijo pokoknya banyak deh,” Ujar Rinda mahasiswa Unpad yang punya hobi nonton.

Selain judul yang diambil langsung dari nama mahluk halus, nama tempat menjadi pilihan lain, sebut saja Rumah Pondok Indah, Terowongan Casablanca, Angker Batu sampai yang terbaru Lawang Sewu, semuanya bercerita tentang hantu. Judul film zaman sekarang memang kalah kreatif dengan film zaman dulu. Sebagai bandingan, film Lewat Djam Malam (1954) dan Lewat Tengah Malam (2007), walau memiliki arti yang hampir sama, film ini memiliki cerita yang jauh berbeda. Lewat Djam Malam menceritakan perjuangan tokoh utama dalam mempertahankan idealismenya bukan hantu-hantuan seperti cerita dalam film Lewat Tengah Malam.   

Dari rentan waktu 2001 saat film Jelangkung booming sampai oktober 2007 tercatat empat puluh dua film horor, menghiasi layar lebar tanah air dengan rincian 2001: Jelangkung, 2002: Tusuk Jelangkung, Di Sini Ada Setan, Titik Hitam, Kafir (Satanic), 2003:  The Soul, Peti Mati (The Coffin), 2004: Ada Hantu di Sekolah, Di Sini Ada Setan, The Movie,  Kanibal Sumanto, Bangsal 13, 2005: Mirror, 12 AM, “Panggil Namaku 3 Kali”, “Missing”, 2006: Pocong 2, Rumah Pondok Indah, Kuntilanak, Hantu Bangku Kosong, KM 14, Hantu Jeruk Purut, Lentera Merah, 2007:  “Suster Ngesot”, “Angker Batu”, “Terowongan Casablanca”, “Malam Jumat Kliwon”, “Lantai 13″,  The Wall, Lawang Sewu (Dendam Kuntilanak), Leak, Lewat Tengah Malam, Roh, Hantu, Genderuwo, Pocong 3, Kuntilanak 2, Jelangkung 3, Legenda Sundelbolong, Suster N (Dendam Suster Ngesot), dan Pantai Hantu. Jelaslah tahun 2007 ini merupakan produksi masal dari hantu-hantu lokal yang difilmkan.

Di antara banyak cerita mistis dan menyeramkan yang dipunya negeri ini, lagenda urban menjadi pilihan para pembuat film. Tentu saja dengan hantu-hantu yang sudah dikenal masyarakat dan mitosnya yang terus hidup, diharapkan masyarakat lebih mudah untuk memahami jalan cerita yang ada dan larut dalam kengerian yang coba ditawarkan. Semisal mitos tentang hantu Sundel Bolong,  lahir karena dendam seorang kembang desa yang diperkosa. Setelah meninggal, si gadis desa itu menuntut balas pada orang-orang yang dulu pernah memperkosannya. Dengan mitos semacam itu, Sundel Bolong pun menjadi salah satu film yang paling laris pada 1981, dan di tahun 2007 lagi-lagi Lagenda Sundel Bolong kembali difilmkan.

“Kalau horor dulu lebih horor banget, misalnya Sundel Bolong (1981) tuh serem soalnya mistiknya masih tradisional. Makanya film dulu lebih diinget orang, seperti Sundel Bolong, Beranak dalam Kubur, Kuntilanak. Efek memang bagus sekarang, tapi kesan jelas bagus dulu,” cerita Heni pengelola Depok Town Square. Hari itu ibu dua anak ini memang berniat nonton film Pocong 3, “Soalnya ada Dariusnya” katanya santai. Hal senada juga diungkapkan oleh Supardi “Kalau dilihat-lihat sih bagusan yang dulu, kalau dulu kesannya nyata, sekarang kelihatan banget dibuat-buat,”ujar lelaki yang mencari nafkah sebagai supir angkot.

Keluahan Heni dan Supardi, dua dari sekian banyak orang yang menjadi saksi perkembangan film horor di zaman Suzana dan zaman Julie Estelle. Mereka sampai pada kesimpulan, tidak ada yang terlalu berubah setelah kurang lebih enam puluh enam tahun film horor menghiasi layar lebar Indonesia. Berbekal sosok hantu yang dibuat seseram mungkin dan muncul tiba-tiba, produser dan sutradara mencoba menakut-nakuti para penonton. Mereka lupa untuk menyusun alur cerita seram yang logis dan sound pendukung yang menjadi poin penting dalam film bergenre horor. Tanpa sound, visual dan cerita yang dipadu apik, jangan harap film horror Indonesia akan sekelas film-film buatan Jepang, Korea bahkan Thailand.

Tidak ada Pilihan Selain Horror

            Ketika produser ramai-ramai ambil untung, perfilman kita semakin hancur

Siang itu, di bioskop jaringan 21 Cineplex Cibubur Junction, Lenka terlihat bingung memilih film apa yang harus dia tonton kali ini. Minggu lalu dia sudah menonton aksi kocak Nirina Zubir dalam film bertajuk Get Merried. Jika pada minggu lalu dari empat studio yang ada, tiga diantaranya menayangkan film horor Jelangkung 3, Kuntilanak 2, POCONG 3, minggu berikutnya pun tak jauh beda. Hanya satu film mengalami perubahan, posisi Jelangkung tergantikan oleh Lagenda Sundel Bolong.  Siap antre dibelakangnya, Suster N (Dendam Suster Ngesot) dan Pantai Hantu.

Melihat maraknya film-film horor di Indonesia, Susi Fitri, dosen Universitas Negeri Jakarta, tidak menganggap gejala tersebut sebagai efek masyarakat Indonesia yang suka mistis. “Di Metropolitan Mall, film yang saat ini tanyang Get Merried, Pocong 3, Kuntilanak 2 dan satu lagi juga film horor. Probabilitasnya adalah tiga orang yang menonton film horror, satu orang komedi. Nggak bisa dibilang masyarakat kita suka mistis, karena siapa tau minggu lalu dia udah nonton Get Merried dan minggu ini terpaksa pilih satu dari tiga film horror yang ada” Jelas dosen yang biasa dipanggil Sufit.

“Kalau pilihan yang ada film horror Indonesia, film horor Barat, film cinta Hollywood, film perjuangan Bollywood, drama komedi China dan drama Korea terus orang indoensia masih banyak yang  milih film mistik Indoensia, baru kita bisa bilang orang Indonesia memang suka banget film mistik.” tambahnya.

Hal inilah yang kemudian dialami oleh Lenka, “saya bingung mau nonton apa. Sebenarnya saya nggak suka film hantu-hantuan, abis film horor di Indonesia masih norak. Kalah jauh sama Korea, Jepang bahkan Thailand. Hampir semua film horor yang ada mempunyai trik yang sama, hanya ngagetin di awal, selebihnya ketebak” Keluhnya. Pun dengan Fiana, mahasiswa UI semester tiga ini akhirnya memilih Pocong 3 karena satu-satunya film bukan horor (Get Merried-red) sudah ia tonton minggu lalu. “menurut gw film Indonesia masih kalah sama film Thailand karena jalan ceritnya nggak dapet,” jelasnya.

Dengan membuat film horor seadanya tentu tidak akan memperbaiki kondisi perfilman Indonesia yang stagnan setelah mati suri. Inilah yang diungkapkan Rinda Medianti, “Film horor Indonesia tuh terlalu dibuat-buat, masa rumah kos-kosan yang udah lumutan terus di sampingnya kuburan masih ada yang mau nempatin, nggak masuk akal.” Jelas gadis yang biasa dipanggil Dame. “Saya terganggu banget, banyak film horor tapi nggak ada yang berkualitas Lebih baik sedikit, pelan-pelan yang penting berkualitas”  tambahnya.

Pendapat berbeda dikemukakan Salwa, pelajar MAN 7 ini melihat fenomena maraknya film horor dengan “asyik aja”.  Ditemui di kawasan Time Zone Plaza Depok, dia dan temannya sedang menunggu bioskop dibuka untuk menyaksikan film Pocong 3. “Seru, pengen nonton bareng teman-teman. Film horor sekarang sedikit lebih baik dari yang dulu. Selain itu, film horor sekarang lagi banyak banget, setiap bulan ada aja film horor yang keluar. Tapi saya paling suka pocong, soalnya ngagetin” ungkap Salwa.

Ika, siswa kelas dua SMA swasta pun berpendapat sama dengan Salwa, “Kuntilanak 2 tuh seru beda sama film-film yang lain. Akting pemainnya juga bagus-bagus dibanding yang lain. Pokonya nonton film horor seru deh, negangin buat kaget. Sayang ceritanya standar, cuma bisa ngagetin aja” ujar gadis pecinta film horor ini. Inilah yang kemudian disebut Garin Nugroho sebagai “ruang teriak bersama”.
Dalam dunia komoditas, suka atau tidak suka bukan penonton yang mentukan jenis film yang beredar dipasaran. Para pemodal (pembuat film), membuat film horor bukan karena penonton suka film horor, melainkan karena biaya pembuatan yang jauh lebih murah dari film berjenis drama, komedi, action, apalagi kolosal. Dengan biaya yang sangat murah, produser bisa mendapat keuntungan yang berlipat-lipat. Misalnya film Kuntilanak yang ditonton oleh 1,5 juta orang dan setiap orang membayar sepuluh ribu, makan Rizal Mantovani mendapat pemasukan 15 Miliyar. Apalagi dengan biaya produksi sangat kecil (film Kuntilanak 2 yang dikabarkan sebagai film horor paling mahal hanya memakan biaya 5 Milyar-red), tentu dana yang dikeluarkan produser film horor akan cepat balik modal. Tak heran, jika sutradara film Terowongan Casabalnca dihadiahi mobil karena kesuksesan film tersebut. Bandingkan dengan biaya produksi film Long Road to Heaven yang mencapai 8 Milyar (tidak laku dipasaran-red) dan film GIE yang memegang rekor film termahal di Indonesia dengan biaya produksi mencapai 11 Milyar. Dilihat dari segi modal dan pemasukan, film horror jelas lebih menguntungkan.

“Dipaksa mungkin bukan kata yang tepat untuk menggambarkan maraknya film horor, toh nggak ada yang memaksa kita untuk nonton film. Hanya saja pilihan yang ada seputar itu. Kalau tidak Sundel Bolong, Kuntilanak, atau Pocong, kita memang bisa milih, tapi pilihan yang ada hanya seputar itu,” ujar Sufit. Hal inilah yang persis dialami oleh Lenka, “Karena nggak ada pilihan lain, akhirnya saya pilih film Kuntilanak 2”. Penonton sekarang terjebak, datang kebioskop untuk nonton film yang bermutu dan mampu menghilangkan kepenatan, malah terpaksa nonton film horor Indonesia yang hanya mengandalkan kemunculan hantu secara tiba-tiba sebagai daya tarik utama. “Dari pada nggak jadi nonton, lebih baik saya pilih salah satunya. Tapi yah… saya tidak berharap banyak dari film horror produksi Indonesia,” tambah Lenka.

Untuk menutupi kekurangan film horror, produser sengaja memajang wajah cantik dan ganteng bertampang indo. Tak jarang pula, film horror memasang artis yang sudah mapan dan sedang naik daun untuk menarik perhatian penonton. Dengan memasang artis tenar, film horror bisa “naik kelas”. Dengan memakai idola para ABG, diharapkan mereka (baca: ABG) beramai-ramai datang ke bioskop. Selain bintang muda bertampang indo, promosi besar-besar film horor sampai cerita menyeramkan yang dialami pemain di lokasi syuting menambah penasaran penonton film horror yang kebanyakan ABG. Lihat saja pocong-pocongan yang ditaruh di salah satu sudut bioskop jaringan 21, juga patung hantu-hantuan dari film yang sedang tayang, atau baliho superbesar yang ada di tempat-tempat strategis mau tidak mau menarik penonton untuk mengetahui seseram apa film horror yang sedang tayang.

Selain murahnya biaya produksi dan keuntungan berlipat yang didapat, alasan lain mengapa film horor menjadi pilihan para pembuat film adalah karena emosi yang dibangun hanya satu: ketakutan. Dibandingkan dengan film bertema sosial film horror jelas lebih mudah. Emosi yang dibangun dalam film bertema sosial lebih beragam, masalahnya pun lebih kompleks. Selain itu film bertema sosial jelas kalah peminatnya dibanding dengan film horor, sebut saja film garapan Garin Nugroho, Daun di Atas Bantal yang masuk dalam festival film Cannes, salah satu festival paling bergengsi di dunia. Sayangnya, film  tersebut tidak mendapat tanggap positif dari masyarakat luas. Mayoritas penonton Indonesia terbiasa dengan film ringan (baca: kurang mutu) yang menyerbu dunia perfilman tanah air.  Seperti diungkapkan Didi Petet, masyarakat kita terpola kalau nonton film harus ada endingnya. Karena itulah, film dengan tema sosial yang rumit cenderung kurang diminati. Hal senada diungkap Sufit, “Cita rasa kita dibikin oleh produsen. Semua komuditas adalah bikinan dan masuk dalam hitungan dagang. Sekarang tinggal kita yang menetukan, mau jadi konsumen yang kritis atau nggak?”

Sebagai korban, penonton terpaksa mengikuti keinginan produser (pemodal). Biasanya ketika satu film booming, film yang sejenis atau bertema sama akan muncul sesudahnya. Sebagai contoh, ketika film bertema cinta (AADC?) mendapat sambutan positif, muncul film Eiffel I’m in Love, Biarkan Bintang Menari, Virgin, Dealova yang semuanya mengeksplore cinta dan persahabatan. Dan ketika Jelangkung di luar dugaan sukses besar, film horor pun berebutan menunggu antrian tuk diputar di jaringan bioskop 21. Produser sebagai pemilik modal tidak ingin uang yang dikeluarkannya terbuang percuma, karena itulah mereka hanya mau membiayai film yang sedang “in”.

Rasanya naif menganggap maraknya film horror sebagai wujud dari kebangkitan perfilman Indonesia. Bagi Maruli Simbolon penulis dan dosen di IKJ, saat ini perfilman Indonesia belum memiliki akar yang kuat, tidak mencari kiat atau formula yang baru. Selain itu Slamet Raharjo mengungkapkan selama beberapa dasawarsa kita telah menjadi bangsa penikmat bukan bangsa pembuat. Kita konsumtif, tidak kreatif. Kalau sudah begitu, bicara bagus tergantung kocek mereka (produser- red), akhirnya seluruh potensi negeri hancur termasuk film.

Di awal kebangkitannya, film memang hadir tapi belum menjadi penting. Film Indonesia tetap tidak akan “naik kelas” jika belum dapat menemukan jati dirinya. Apalagi ketika tema-tema yang hadir di layar lebar, tergantung dari pemiliki modal ingin buat film macam apa. Karena itulah penonton, harus kritis dalam memilih film yang ditonton. Jangan sampai terjebak, dan mempertaruhkan dunia perfilman pada orang-orang yang Cuma mau mengambil keuntungan tanpa memberika apa-apa kepada konsumen (baca: penonton). Saat ini tema horror memang sedang booming, mungkin tiga bulan ke depan tema-tema baru (yang tentunya akan seragam) akan menggantikan film horror, begitu seterusnya. Tak ada yang tetap dalam genre film, yang tetap hanya perubahan itu sendiri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s